Legenda Pura Batu Medawu Nusa Penida

Iklan Semua Halaman


Header Menu

Legenda Pura Batu Medawu Nusa Penida

BaliKini News
Kamis, 11 April 2019
Legenda Pura Batu Medawu Nusa Penida

Pulau Nusa Penida - Pura Batu Medawu adalah salah satu pura yang terdapat di Nusa Penida. Pura ini terletak di Desa Suana, bagian timur Nusa Penida, Klungkung. Lantaran terletak di pinggir pantai, deburan ombak menjadi salah satu ‘musik’ alami pengiring saat bersembahyang.

Pura Batu Medawu memiliki sejarah yang unik. Menurut I Made Wijaya yang merupakan Ketua Yayasan Bakti Pura Batu Medawu, ada cerita yang telah turun-temurun dipercayai oleh masyarakat, berdasarkan Babad Nusa Penida. Dikisahkan ada seseorang dari Nusa Penida yang memiliki kemampuan tingkat tinggi bernama I Renggan, salah satu cucu Dukuh Jumpungan.

Suatu hari I Renggan hendak menaklukkan Bali. Adapun salah satu senjatanya adalah perahu sakti. Konon perahu tersebut mampu membelah daratan dan menjadikannya laut. “Bahkan Nusa Penida berhasil dibelah oleh perahu tersebut, sehingga menjadi Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan,” tuturnya.

Setelah semua persiapan dianggap cukup, berangkat I Renggan menuju pulau Bali. Sementara, Ida Bhatara Tolangkir yang bersemayam di Gunung Agung ternyata mengetahui rencana I Renggan. Beliau tidak tinggal diam dan mengatur siasat. Saat I Renggan mengendarai perahu, di sihir agar ia tidak sadar alias tertidur. Akibatnya, laju perahu tak terkendali dan mengarah kesana kemari. Tiba-tiba perahu tersebut menyerempet daerah Manggis, Karangasem sehingga menghasilkan beberapa pulau kecil di daerah Padang Bai yang masih bisa disaksikan hingga kini.

Setelah sekian lama, I Renggan tersadar dan kecewa karena rencananya gagal. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, I Renggan kemudian memutuskan untuk kembali ke Nusa Penida. Ketika tiba di bagian timur pulau, perahu kemudian hendak ditambatkan. Sayangnya, perahu tersebut kemudian naik ke daratan dan membelah bebatuan yang ada di pinggir pantai. Sedangkan ujungnya yang lain masih menjulur ke pantai. Ujungnya tersebut kemudian menjadi Pura Segara, salah satu bagian Pura Batu Medawu.

Konon, berdasarkan cerita tersebut kata Medawu berasal. “Jadi Medawu berasal dari kata Perahu Medah (membedah) Batu dan kalau diperhatikan secara seksama, bentuknya persis seperti perahu dengan ujungnya yang menjulur ke laut,” jelasnya.

Dilanjutkan kembali olehnya, bahwa I Renggan kemudian meninggalkan perahu dan menuju ke Dalem Ped. Ternyata di dalam perahu tersebut masih tersimpan banyak bahan makanan serta harta berharga, sehingga memberikan berkah bagi masyarakat sekitarnya dan dimuliakan hingga kini. Hal ini yang mendasari kepercayaan bahwa Ida Bhatara yang beristana di Pura Batu Medawu memberikan kesejahteraan dan kebijaksanaan bagi masyarakat.

“Kalau secara logika, di perahu tersebut tersimpan bahan makanan dan sebagainya. Oleh karena itu, kalau mencari amerta dan kebijaksanaan, disini tempatnya,” katanya.

Sementara itu, karena sang nahkoda pergi ke Dalem Ped, maka Wijaya mengatakan Dalem Ped merupakan pura yang tepat untuk mohon “taksu” kepemimpinan. “Kalau mencari, kekuatan, ketegasan, wibawa, dan hal-hal yang berhubungan dengan kepemimpinan, di Dalem Ped tempatnya. Kedua ini tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Terkait dengan kisah itu, Wijaya mengatakan bahwa Pura Batu Medawu adalah pura tertua di Nusa Penida, yang disusul oleh Dalem Ped. “Dua Pura ini tidak bisa dipisahkan dan secara pangempon membelah Nusa Penida di tengah-tengah menjadi dua bagian,” jelasnya.

Dari Desa Mentigi ke timur merupakan pangempon Batu Medawu, sedangkan Kutampi ke barat merupakan pangempon Dalem Ped.

Pada saat upacara pangusaban yang dilaksanakan setiap tahun, keduanya bertemu dan menyatu melaksanakan upacara. Usaba tersebut dilaksanakan secara bergantian. Jika tahun ini dilaksanakan di pura Batu Medawu, maka tahun depan dilaksanakan di Pura Dalem Ped. Demikian pula Ida Bhatara dari pura yang ada di seluruh Nusa Penida berkumpul di tempat pelaksanaan usaba.

Wijaya melanjutkan, pujawali di Pura Batu Medawu dilaksanakan setiap Buddha (Rabu) Kliwon Pahang, yang bertepatan dengan rahina Pegatwakan. Selain itu, Pura Batu Medawu sebenarnya masuk dalam konsep Tri Purusha di Nusa Penida, selain Pura Dalem Ped, dan Pura Puncak Mundi. “Tri Purusha ini lalu berkembang menjadi Sad Kahyangan, yakni Batu Medawu, Dalem Ped, Puncak Mundi, Dalem Penida, Tunjuk Pusuh, dan Puncak Saab,” jelasnya.

Jika bersembahyang ke Pura ini, maka umat akan diarahkan untuk sembahyang terlebih dahulu di Pura Segara yang letaknya persis di pinggir pantai dengan bagian yang menjulur ke pantai bentuknya seperti ujung perahu. Selanjutnya barulah ke Pura Taman yang ada di sebelah baratnya. Dari sana, barulah ke jeroan Pura Batu Medawu. Mengenai peninggalan di Pura Batu Medawu, Wijaya menyebutkan ada arca berbentuk batu yang sangat dikeramatkan oleh pangempon. “Bentuknya seperti lingga yoni,” pungkasnya.