Taman Beji Paluh Pengelukatan Kena Guna-guna


Bali, Balikini.News ■ Panglukatan Pancoran Solas Taman Beji Paluh berlokasi di Banjar Dauh Peken, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung ini menyajikan keindahan alam dan religi yang dikemas apik bahkan sangat sakral .

Berdasarkan informasi, sebelum dipugar, Taman Beji Paluh memang sudah ada sejak dahulu kala sebelum jaman kerajaan mengwi  “Sesuai cerita turun-temurun, konon pada zaman dahulu, air yang  mengucur di Taman Beji Paluh adalah sungai yang mengaliri Tukad Yeh Penet dan Bebengan,” ungkap Kepala Dusun Dauh Peken, I Gede Made Artanegara, Senin.

Suatu ketika, subak Desa Kapal memerlukan aliran air untuk mengairi persawahan warga. masyarakat pun mencoba mengarahkan aliran mata air dari Desa Penarungan ini ke Desa Kapal. Dimulai dari Banjar Abing yang saat ini dikenal sebagai Banjar Dauh Peken.

“Caranya, dibuatkan urukan sebagai pembatas untuk mengarahkan aliran air,” terangnya.

Upaya masyarakat tak mudah. Berkali-kali urukan tanah tersebut jebol. “Nah, konon akibat hal tersebut, ada salah satu anggota masyarakat secara tidak sengaja berikhtiar. Ia memohon kepada penguasa alam. Barang siapa yang datang paling akhir, akan dipakai pakelem atau tumbal agar usaha yang dilakukan berhasil,” ujarnya.

Ternyata hal itu benar-benar terjadi. Suatu ketika, ada seseorang yang datang paling akhir. Ia adalah seorang Pangliman yang bertugas mengatur air. Tiba-tiba ia jatuh dan meninggal saat berjalan di pinggi urukan sungai.

“Sejak itu, akhirnya urukan yang dibuat tidak pernah lagi mengalami masalah hingga saat ini,” katanya.

Bekas jebolan urukan sungai tersebut membuat tanah tidak rata atau disebut dengan istilah ‘mapaluh-paluh’. “Hingga kemudian tempat bekas urukan tersebut dikenal sebagai Taman Beji Paluh hingga kini,” ujarnya.

Secara niskala, kata Artanegara, kucuran mata air di Taman Beji Paluh sejak lama dipercaya memiliki khasiat. Khususnya, menyembuhkan berbagai penyakit nonmedis. Misalnya, penyakit mata dan kulit kena guna –guna bahkan penyakit akibat hilmu hitam atau liak. Awalnya, kucuran mata air di Taman Beji Paluh ada lima. Itu sebabnya disebut Pancoran Lima.

“Penduduk lokal biasanya menggunakannya untuk panglukatan atau pembersihan diri dari segala unsur dasamala. Khususnya untuk kesehatan, kucuran air di Pura Taman Beji Paluh dipercaya secara turun-temurun berkhasiat untuk memberikan kesembuhan penyakit mata dan kulit,” jelasnya.

Adapun Pancoran Lima terdiri dari Pancoran Brahma, Wisnu, Siwa, Rudra dan Sambu. Sedangkan Pancoran Solas di antaranya terdiri dari Toya Ning, Tirta Gangga, Toya Panglukatan, Toya Pembersihan, Toya Pamrastita, Toya Pangleburan, Toya Pangening-ening, Toya Panyejer, Toya Sudamala, dan Toya Pangentas.[Sup/r6]

Belum ada Komentar untuk "Taman Beji Paluh Pengelukatan Kena Guna-guna"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel