Perlunya Seleksi Ketat Soal Pembebasan Napi di Lapas Kerobokan

Iklan Semua Halaman


Header Menu

Perlunya Seleksi Ketat Soal Pembebasan Napi di Lapas Kerobokan

BaliKini News
Rabu, 15 April 2020

Ket Foto : Dokumen terdakwa Rio Handa Aji saat sidang sebelum pendemi Covid-19
BALIKINI ■ Sedikitnya ada 294 napi di Lapas Kerobokan yang telah melewati seleksi, secara berrahap mendapat pembebasan bersyarat terkait pendemi Covid-19.

Hal ini mengacu pada ketentuan Permen Hukum dan HAM Nomor 10 Tahun 2020, Permen Nomor 19 Tahun 2020, serta Surat Edaran Direktur Jenderal Plt Ditjen Pemasyarakatan Tahun 2020 terkait pengeluaran, pembebasan narapidana dan anak, melalui asimilasi dan integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran COVID-19.

Kebijakan ini tentu menimbulkan kekuatiran bagi para korban  tindak pidana kejahatan yang pelakunya telah menjalani proses hukum di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kerobokan, Bali.

Seperti disampaikan sebelumnya oleh Yulius selaku Kalapas Kelas IIA Kerobokan, bahwa pembebasan ini tentu akan disaring atau seleksi ketat dan jadi kebijakan Menkumham.

"Pada intinya tidak terkena PP 99/2012 seperti pidana narkotika di atas 5 tahun, terorisme, Tipikor dan bukan orang asing," kata Yulius saat itu.

Pun demikian, salah satu korban kasus penipuan dan penggelapan bernama Sugiharto Widjaja, dengan terpidana atas nama Rio Handa Aji yang dihukum 2 tahun penjara. Dikawatirkannya masuk dalam daftar nama pembebasan bersyarat, itu.

“Saya kuatir kalau ada napi yang tidak memenuhi persyaratan tetapi bisa lolos dalam pembebasan kali ini,”Tegasnya

Kata dia, Handa Aji mendekam di Lapas Kerobokan terkait kasus penggelapan uang proyek senilai Rp. 1,4 miliar. Diketahuinya, terpidana tersebut belum memenuhi unsur persyaratan menjalani 2/3 masa hukuman.

Dia menambahkan Rio Handa Aji, selain dirinya juga melakukan penggelapan terhadap banyak korban. "Semenjak berita mengenai Rio terkuak, jadi banyak korban lain yang bercerita kepada saya. Jangan sampai kebijakan ini dimanfaatkan oleh Rio Handa Aji untuk menghindar dari hukuman yang sudah seharusnya dia jalankan, terlebih secara persyaratan jelas dia tidak memenuhi,"kata Sugiharto

Seperti diberitakan sebelumnya, Upaya hukum banding yang ditempuh terdakwa kasus penggelapan senilai Rp 1,4 miliar, Rio Handa Aji, untuk keluar dari jeratan hukum atas vonis 2 tahun yang dijatuhkan majelis hakim PN Denpasar pimpinan I Made Pasek tidak membuahkan hasil.

Pasalnya, majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar pimpinan Hakim Nyoman Sumaneja dalam amar putusannya sebagaimana termuat dalam website resmi PN Denpasar  menyatakan menerima permohonan banding dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Menguatkan putusan PN Denpasar Nomor 1040/Pid.B/2019/PT DPS, tanggal 21 November 2019 yang dimintakan banding tersebut,” demikian bunyi amar putusan yang termuat dalam website remi PN Denpasar, Rabu (26/2).

Dengan demikian, Rio Handa Aji diputuskan tetap bersalah melakukan tindak pidana penggelapan sebagaimana vonis hakim PN Denpasar.(MD/R-01)